Refleksi: ‘Jangan ‘menghakimi’
  Ulat Filipino

Refleksi: ‘Jangan ‘menghakimi’

“Jangan menghakimi tanpa dihakimi. Karena Tuhan akan menilai Anda seperti Anda menilai orang lain. Dan kamu akan diukur menurut ukuran yang kamu pakai dengan orang lain”. (Matius 7:1-3).

SAYA INGAT seorang teman saya yang dulunya sangat suka bergaul dengan orang kaya atau orang yang punya uang. Dia selalu melekat pada orang-orang ini ke mana pun mereka pergi. Dia merasa bahwa ketika dia menyentuh seseorang dengan wajah memerah, dia terlihat kaya.

Dia menganggap orang kaya sebagai “sempurna” karena, menurutnya, mereka sudah memiliki segalanya di bumi. Seperti uang, rumah bagus, mobil bagus dan sebagainya.

Tetapi teman saya lupa bahwa tidak ada yang bisa disebut sempurna-bahkan orang kaya sekalipun. Karena ada orang kaya yang masih terperosok dalam masalah. Mereka mungkin kaya dan makmur dalam hal materi tetapi kurang dalam kebahagiaan.

Di zaman kita sekarang ini, kita lebih menghargai melihat penampilan luar seseorang. Seperti teman saya yang mengagumi orang kaya. Tapi dia memandang rendah orang miskin.

Ketika seseorang tidak terlihat baik atau memiliki gaya hidup yang buruk, kita akan langsung menilai mereka sebagai orang yang miskin dan lamban. Jika mereka tidak berprestasi di sekolah, kami akan langsung menilai mereka lemah atau bodoh.

Jika kita memeriksa diri kita dengan cermat, bukan orang yang kita nilai yang cacat dan kekurangan. Sebaliknya, kita sendiri yang menjadi hakim yang bermasalah. Karena kita hanya menilai dari apa yang kita lihat.

Yang kita lihat hanyalah penampilan luar mereka. Tapi kita tidak melihat isi hati mereka. Jadi ketika kita melihat seseorang memakai pakaian yang bagus, kita langsung berpikir dia adalah orang yang baik, berpendidikan tinggi dan kaya.

Tetapi ketika seseorang yang kita lihat berpakaian sederhana atau berpakaian buruk, segera terlintas dalam pikiran kita bahwa tidak ada uang, tidak ada uang, atau memohon belas kasihan.

Tetapi Tuhan Yesus Kristus mengingatkan kita dalam Injil (Matius 7: 1-5), bahwa kita tidak boleh menghakimi sesama kita hanya berdasarkan apa yang kita lihat dengan mata kita.

Sebaliknya marilah kita melihat dan menilai sesama kita dengan hati kita. Karena apa yang tidak bisa dilihat oleh mata bisa dirasakan oleh hati kita. Ini adalah kebaikan atau kebaikan seseorang.

Ada orang lain yang suka mengkritik orang lain dan dirinya sendiri selalu benar atau benar. Tetapi mereka melupakan apa yang dinyatakan dalam Bacaan itu, bahwa mereka memperhatikan selumbar di mata saudara kita, sedangkan balok di mata kita sendiri tidak mereka perhatikan. (Matius 7:3).

Membaca menggambarkannya dengan aneh sebagai “log” di mata kita. Ini hanya berarti bahwa kita lebih menyadari kekurangan atau kesalahan kecil tetangga kita. Sedangkan kekurangan kita yang lebih besar kita abaikan atau kritik.

Jika kita adalah orang yang benar-benar percaya dan percaya kepada Tuhan Allah, kita tidak boleh langsung menghakimi sesama kita. Mereka bilang, jangan menghakimi.

MARI KITA BERDOA: Tuhan Allah kami, ajari kami untuk tidak menghakimi sesama kami berdasarkan apa yang mata kami lihat. Sebaliknya, semoga kita melihat perbuatan baik mereka melalui hati kita. AMIN.

–FRJ, Berita GMA

Posted By : togel hongkonģ